Books · Novel · Series

KNOCK – Chapter 2

Tok! Tok!

“Eng..”

Kurang kerjaan! Siapa sih yang bertamu malam-malam begini. Biarkan saja lah.

Tok! Tok!

Terganggulah mimpi indahku. Dengan enggan aku berdiri lalu berjalan kearah pintu. Entah siapa yang bertamu di kosan cewek dijam segini, apakah ibu? Mungkin saja.

Tok! Tok! Tok!

“Iya! Tunggu sebentar,”

Kubuka slot kunci pintu rapuh ini, dan kuputar knopnya. “Ada apa ya…”

Lho?

Kuedarkan pandangku ke sekitar halaman depan kosan yang aku tinggali. Kosong. Merasakan firasat yang tidak enak, cepat-cepat kututup pintu kembali lalu ku kunci pintu dengan double slot. Tidak, triple slot! Jaga-jaga kalau ada kejadian kayak gini.

Kubenamkan tubuh dibalik selimut sambil merapalkan berbagai macam doa guna mengusir roh-roh jahat. Kalau dipikir-pikir daerah sekitar sini memang rawan akan aksi kejahatan. Apalagi dikisaran wilayah kosan cewek, dan kebetulan beberapa penghuni dikosan ini udah pada pulang kampung! Aduuhh kenapa juga aku tidur disini, bukannya pulang kerumah masa bodo diomelin berjam-jam juga karena ketahuan bolos.

Tok! Tok!

Suara itu terdengar lagi. Kututup telinga rapat-rapat, semoga saja suara itu hanya ilusi, ya hanya ilusi!

2 menit.

3 menit.

15 menit.

Hening yang didapat. Suara itu tak terdengar lagi.

“Hhh…” aku menghela nafas, walau perasaan belum bisa dikategorikan lega.

BRRAAKKK

“SUARA APA ITU?!!!!”

Dengan refleks aku bangkit dari tempat tidur dan berlari keluar. Terkutuklah kerefleksan ku yang gak tau diri! Kini aku berada di ruang tengah dengan melihat satu-persatu slot pintu terbuka.

BRRAAKK

Bunyi itu terdengar lagi, rupanya dari pintu tersebut. Getaran yang cukup keras membuat slot-slot pintu bergeser sendiri. Satu gebrakan lagi saja…

Suuaaa

“SIAPA DISANA?!”

Sebelum seseorang yang ada dibalik pintu itu menggebrak kembali, aku terlebih dahulu berteriak. Siapapun ia kuyakini adalah manusia!

Hening.

Tak ada gebrakan dan tak ada angin pula.

“JANGAN GANGGU AKU! PERGIII!!!”

Aku berteriak frustasi. Siapa yang tidak frustasi dikeadaan seperti ini. Sendiri dan ada orang gila yang berusaha mendobrak masuk.

Tak ada suara lagi. Baguslah, orang gila tadi membuatku takut setengah mati dan mata tak bisa menutup lagi, yang ada aku menangis sepanjang malam. Sungguh! Hal ini sangat menakutkan bagiku.

***

Esok paginya, saat matahari masih mengintip dengan malunya, bergegas aku beranjak dari kosan. Dengan setelan yang sama dengan semalam, dan tas sekolah yang tak sempat ku tutup, aku berlari menuju angkutan apa saja yang ada disekitarku.

Sesampainya dirumah, aku berharap penglihatanku kali ini benar-benar salah dengan apa yang baru kulihat.

Nguuiingg

Suara apa…? sirine?

Aku tertawa hambar. Bayangkan saja Kei, yang kau lihat adalah mobil polisi. Mobil polisi yang mengangkut ayahmu. Lebih baik di borgol pergelangan tangannya, daripada diselimuti seperti itu.

Sepertinya gaya dan cat mobil polisi sudah berganti warna dan corak. Tidak ada corak mencolok yang ada hanya warna putih pucat. Mobil polisi yang unik.

Hening.

Hening..

.

.

.

“Ndo Yuan!! Syukurlah, Ndo selamat.”

.

.

Eh?

.

“Yuan! Apa yang terjadi?!”

Bayu? Apa yang terjadi kau bilang? Akupun tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Yang  kutahu semua anggota keluargaku tengah asyik berbaring dibawah selimut putih dan mobil-mobil polisi aneh itu membawa mereka pergi.

Apa… yang terjadi ?

***

Ding. Ding.

Tes.

Tes.

Tes..

Aku benci suara-suara.

Aku benci bau-bauan.

Bau alcohol, darah, obat! Suara infus, jeritan, tangis, kursi roda, gerobak yang didorong tergesa-gesa, aku benci… itu.

Apa yang kulakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang akan Kei Yuan lakukan setelah ini? Menyusul? Dengan cara apa?

Kurasakan sekumpulan makhluk tak berguna tengah berlari tergesa kearahku, dengan sigap aku berdiri dan berjalan tertatih kearah yang berlawanan. Mereka semakin mendekat, kaki dengan cepat berlari membawaku menjauh dari sekumpulan sampah itu.

“Hhh angin yang sejuk.. atau udara yang panas?” aku bergumam sendiri. Haha aku  sudah gila. Ya… gila.

Pemandangan dari atas sini menakjubkan sekali. Hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta terlihat jelas dari sini. Mereka kelihatan sibuk sekali, dijalan raya saling menyalip satu sama lain, ada yang menabrakan motornya ke mobil didepannya. Pemandangan yang monoton. Adakah yang lebih menarik? Misalnya si motor memukul sipengendara mobil yang parkir sembarangan? Saling memukul, yang kalah adalah yang salah, begitulah hukum yang kumau.

Begitu pula dengan bisnis ayah, bisnis yang sangaaaattt membosankan! Menunggu moment yang tepat untuk melakukan promosi dijalur lawan, kenapa tidak mengibarkan bendera perang secara terang-terangan saja?! ayah bilang tak ingin memicu peperangan, tapi dengan diamnya ayah pun terjadi perang bukan?!!!

SH*T!!!!!

Aku memekik keras. Berharap emosi yang terkumpul didalam menguap seketika. Tapi sepertinya akan susah, karena keluarnya emosi melahirkan emosi baru yang lebih dahsyat.

Hal ini tidak berdampak baik. Haruskah…

Ku pandangi aspal yang ada dibawah sana. Aspal tersebut seakan menggodaku untuk menyentuhnya dari atas sini.

Haruskahh…?

“Belum bertemu. Jangan menghilang,” ~

“SIAPA?!” dengan cepat aku menoleh. Siapa yang bicara tadi? Kurang jelas terdengar, seperti hembusan angin.

Aku kembali menghadap ke ketinggian. Tiba-tiba keinginanku untuk melompat menjadi hilang, tergantikan menjadi keingintahuan ku akan arti dari ucapan angin itu.

 

To Be Continued

Iklan

One thought on “KNOCK – Chapter 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s