Books · Novel

KNOCK – Chapter 3

Tok! Tok!

Sudah 7  hari ini suara itu selalu terdengar. Kini aku tinggal dan menetap di tempat kos, karena rumah orang tuaku yang kini bergelar alm. sudah hangus dibakar api. Tagihan demi tagihan dari bisnis ayahku seketika mencekikku, untung saja mbo Duri dan paman Sam bersedia mengurusnya, disaat aku berumur 17 tahun semua harta keluargaku bisa kuambil alih.

Tok!

Kembali ke suara ketukan itu. Sudah tak ada rasa takut dan khawatir lagi akan suara itu. ketukan tersebut sudah kuanggap sebagai teman dihidupku yang tragis ini. mungkin seseorang dibalik pintu sana pun merasakan hal yang sama denganku, yaitu kesepian. Mungkin beberapa tahun, ralat, bulan kedepan aku akan seperti dirinya. Menjadi gila.

Aku berjalan keruang tamu dan duduk di dinding dekat pintu rapuh itu. Aku.. jujur saja aku butuh teman bicara. Hanya teman yang rela menampung semua kesedihan dan kemarahanku tanpa memberikan timbal balik. Teman yang memang dari awalnya tidak baik, bukan teman yang menutupi keburukannya seperti Bayu.

“Hai…” sapaku kepadanya yang tiba-tiba berhenti mengetuk.

Seling beberapa menit ia kembali mengetuk. Aku terkekeh, hal itu seperti jawaban atas sapaanku tadi.

“Kau.. kesepian?”  aku memang gila.

Tok

Aku tersenyum, “Kita sama,”

Hening. Tak ada jawaban darinya. Apa ia sedang berpikir penyebab diriku kesepian? Mana mungkin orang gila sepertinya berpikir.

“Aktifkan HP mu” ~

Suara itu lagi! seketika tubuhku menggigil, dan tanpa diperintah tubuhku bergerak sendiri dan mengatifkan HP yang sudah 8 hari ini aku matikan. Baru aktif HP ku sudah berbunyi notifikasi secara terus menerus.

“Ap.apa…?”

Astaga.. semua notifikasi itu darinya, dari si akun gila itu. Dengan tangan bergetar kubuka notifikasi yang paling baru darinya,

Open!

GrindRipper : Kau tidak kesepian. Belum. Karena ada aku disisimu, kau tidak akan pernah merasa kesepian.

“A..argh….ap.”

Saking terkejutnya sampai-sampai mulutku tak bisa berucap apa-apa. Tubuhku bergetar hebat. Benarkah? Benarkah ini? Jadi..?

Aku menoleh kearah pintu  yang seketika menjadi racun ketakutanku. Ketakutan yang kembali menguap.

Ddrrtttt

Aku tak sanggup membaca lagi. tak sanggup! Aku…………… takut.

“Jangan takut”~

“ENYAHLAH!!” aku memekik keras. Adakah.. siapapun yang bisa menolongku?

Ternyata suara angin itu nyata, apa itu suaranya? Suara menyeramkan itu? bagaimana bisa…? Akkhhh..

“Hiks.. pergilah..”

Tok! Tok!

Masih belum enyah juga?

Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku mendongak kearah pintu itu. Walau dengan suara yang bergetar, aku masih bisa berucap.

“Jawab aku… dua ketukan untuk Ya dan tiga ketukan untuk Tidak. Apa benar kau GrindRipper?”

Hening. Aarrghh aku lupa,

“Maksudku, kau yang bernama (kosong) itu?!”

Tok! Tok!

Tubuhku semakin bergetar. Sampai-sampai suara gertakan gigiku terdengar keras.

“Mau.. hiks, mau apa kau?! Apa tujuanmu menganggu hidupku?!!”

Ddrrtttt

Open!

GrindRipper : Jangan menangis.

Sial! “KAU YANG MEMBUATKU MENANGIS!!!”

Hening, lagi.

Tidak ada suara ketukan.

Tidak ada suara angin.

Tidak ada suara notif.

Ia menghilang.

Hhh baguslah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s