[STORYFIC.] KNOCK – Chapter 4

Silahkan membaca ~

.

.

.

Setelah satu minggu meliburkan diri, tentu kali ini dengan izin sekolah, aku kembali menjalani rutinitasku yang menyebalkan ini. Mungkin sekolah adalah salah satu tempat keramaian yang bisa aku datangi, saat ini aku tidak ingin sendiri, tapi bagaimana malam nanti? Apa aku harus menginap di rumah mbo Duri saja? nanti akan kupikirkan.

“KEI!!”

Suara cempreng itu, Antie, siapa lagi cewek yang punya suara nyaring macam dia? Ia berlari kearahku, dan dia sok-sokan memeriksa tangan dan beberapa bagian tubuhku.

“Lo gak apa-apa? Syukurlah, gue denger keluarga lo.. gue turut berduka, Kei.”

Heh? Aku tersenyum hambar lalu berjalan melewatinya. Penduduk kelas menanyakan keadaan ku saat ini, yang kujawab dengan anggukan atau gelengan. Kulirik Bayu yang ada dipojokan sana, kulihat ia sedang gelisah.

Dalam hati aku tertawa keras, mungkin ia kepikiran akan bentakan ku dikantin tempo hari. Jadi takutkan kau Bayu? Karena sekarang ini aku tahu apa yang ada dibalik topengmu.

Tiba-tiba saja segepok uang yang dibungkus map coklat mampir dihadapanku, alisku bertaut sambil menatap si penyerah penuh tanya.

“Ini… ada sedikit dari kami, semoga ngeringanin beban lo,” Ucap si muka topeng itu.

“Ga usah,” Ucapku sekilas lalu mengambil bangku yang menjorok kearah gadis itu. Ternyata ia belum menyerah, antie menaruh segepok uang itu di atas mejaku.

“Terima aja. Buat hari ini aja lo biarin kita bersikap ke lo,”

Haha apa katanya? Memang muka topeng semua penduduk kelas ini. Aku melempar amplop coklat itu keluar jendela, tentu hal itu memancing keributan dan kemarahan mereka.

“APA MAKSUD LO NGELEMPAR UANG ITU HAH??!!”

Aku tersenyum miring, akhirnya gadis berkaca mata ini membuka wajah aslinya. Baru saja aku menoleh ke kanan bayu sudah menarik kerah seragamku yang otomatis membuatku berdiri secara terpaksa.

“LO…! Aaargghhh walau hidup lo udah ancur-ancuran seenggaknya ada setitik.. setitik aja simpati untuk diri lo sendiri. Kita gak peduli lo nyuekin dan kasar ke kita-kita semua, tapi mirisnya lo juga gak peduli pada diri lo! Hidup lo… bener-bener hancur! Dan lo udah terlalu jauh dari kita semua. Jauh dari kata.. normal,”

Sudah cukup penjelasannya? Aku memandang semua wajah munafik mereka, oh begitu rupanya… aku jadi lebih benci mereka. Lebih baik mereka membenciku daripada bertindak SOK prihatin seperti ini.

So…” Aku bersuara setelah beberapa menit terjadi keheningan. Wajah mereka masih memasang ekspresi kaku.

“…kalian gak usah repot-repot peduliin gue,anggap gue gak ada. Gampang ‘kan?”

Aku mengamit lagi ranselku dan berjalan keluar kelas dengan langkah lebar, “Ah! Tunggu.. bay, gue kurang setuju sama pernyataan lo tentang gue itu jauh dari kata normal. NGACA! Kalian itu perlu ngaca sebelum nyebut orang lain itu gila! Haha”

Aku berjalan menjauh dengan tawa yang sama. Tak hilang. Tak juga hilang. Tak akan pernah hilang.

 ***

 “Gila ya… boleh juga.”

To Be Continued

Sedikit ya hehe nanti gue publish lagi di waktu-waktu dekat ini, mau benerin beberapa kata di chapter 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s