[STORYFIC.] KNOCK – Chapter 5

 “Who are you?”

StockSnap_XV36K1HIZ7 Cropped

Kupandangi benda itu, menimbang-nimbang niat untuk membelinya atau tidak. Walau hidupku sudah hancur selama ini tak pernah sedikit pun menyentuh benda itu. Tidak ada alasan khusus hanya saja aku masih ingin hidup.

Suaaa

“Jangan….”~

“Bu, gudang garam 1 bungkus! Gak pake lama ya,” aku berteriak langsung dan si ibu dengan sigap menyerahkan sebungkus rokok kretek itu ke tanganku. Aku menyerahkan lembaran 20 ribu dan dengan cepat beranjak pergi dari sana.

Sial! Sial! Sial! Hawanya, hawa menyebalkan ini masih terasa. Suaranya….. Aarrragghh lama-lama aku bisa gila beneran!!

Kaki berhenti di atas bukit kecil yang berhadapan langsung dengan danau yang sejak dulu aku datangi untuk menghibur diri. Tapi sekarang, entahlah aku sama sekali tidak terhibur. Apa serumit masalahku hingga aku tidak bisa merasakan yang namanya hiburan? Kalau dipikir-pikir memanglah rumit.

Tiba-tiba perasaan perih muncul di ulu hati, cepat-cepat kubuka bungkusan ini dan mengambil satu batang dari dalamnya. Tak peduli suara itu melarangku, toh dia hanya angin. Manusia saja tidak pantas mengasihaniku, apalagi sesuatu yang hampa!

Saat ingin membakar batangan kecil ini aku baru ingat! Aaargghh kenapa juga aku lupa membeli korek api?! Bagaimana bisa menikmatinya kalau tidak bisa dibakar. Kumakan sajakah? Haha sudah gila aku ini.

“Jangan melampiaskan kemarahanmu pada barang terkutuk itu…”~

“Apa pedulimu..?”

Masa bodo aku dibilang gila, kalau itu memang kenyataanya aku bisa apa? dari dulu kerjaanku hanya menerima keadaan.

“Aku peduli padamu, kei.”~

Aku menarawang ke sebrang danau. Matahari sedikit lagi akan menghilang. Waktu di sore ini terasa lama, bahkan anginnya terasa lambat. Suara tawa dari taman dibawah bukit ini semakin menjauh, padahal posisi mereka tidak berubah, apa aku yang berjalan menjauh?

Walau begitu, aku menyukainya. Menyukai kesunyian ini. Seperti tidak ada apapun yang mengangguku, kecuali suara itu. Hhh aku hiraukan saja hidupku lengkap sudah..

“..Andaikan.. andai saja aku bisa berdiri di sampingmu, menyentuh tanganmu, dan menatap matamu.. akankah aku bisa membuatmu lebih baik? Membuatmu sadar bahwa kei yuan tidak sendirian..”~

Aku tidak bisa menghiraukannya.

“Kalau begitu.. buktikan. Tahan tanganku ketika membeli rokok ini atau pukul mereka yang telah menghinaku. Kau tidak bisa melakukannya ‘kan?”

Entah kenapa, entahlah aku menginginkannya ia adalah manusia. Sebegitu kesepiannya ‘kah diriku yang sekarang?

“Hhh.. Aku yang sekarang adalah kosong. Sesuatu yang hampa tak bisa diisi ataupun mengisi. Aku menerimanya. Tapi, entah sejak kapan aku menyesalinya, membenci takdir ini..”~

Tanpa kusadari aku mematahkan sebatang rokok yang aku gengam, aku menyiapkan ancang-ancang dan melemparnya hingga ke tengah danau. Ternyata aku tak bisa menjangkaunya.

“Lalu kenapa……”

Aku mencengkram kedua tanganku. Berjalan lebih dekat dengan bibir bukit. Apakah… kini aku menggapainya?

“Apa yang kau lakukan?! Itu berbahaya!”~

Aku tidak tau siapa dan perwujudan apa dirimu ini. Apakah kau hantu? Tapi kenapa bernama kosong, pastinya setiap hantu ingat nama mereka dikala hidup. Jika bukan hantu, kau ini apa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kapan? Apa di kehidupan sebelumnya? Apa kita pernah bertemu di surga, sebelum Tuhan menyimpanku di sebuah Rahim? Kenapa?

“KENAPA KAU PEDULI PADAKU?! BAGIMU AKU INI APA? KITA HANYA KEBETULAN CHAT  DI TENGAH MALAM, LALU KENAPA KAU BEGITU PEDU…LI”

Ku atur kembali nafasku yang semakin sesak. “…bahkan kau bilang kalau kau menyukaiku. Hei! Kau sudah menyalahi takdir..hiks..”

Apa ini? Ku raba wajahku, astaga aku menangis? Untuknya… atau untuk hidupku yang hancur?

“..Hhh asalkan kau tahu, aku tak mengharapkan keberadaanmu . Tak suka! Aku membencinya! Kau membuatku takut, akan lebih baik kau pergi dariku…”

Hening. Aku tidak merasakan keberadaanya. Tapi sejak kapan aku tau keberadaannya?

“Hei…”~

Astaga! Suaranya sangat dekat. Bukan suara dari kejauhan melainkan… seperti terdengar dari jarak dekat, sangat dekat.

“Percayakah engkau saat ini aku berada tepat di depan wajahmu?”~

Benarkah? Aku mendongak. Nihil. Aku hanya memandangi laut. Lagi-lagi aku merasa sesak, jujur saja aku kecewa.

“Jangan berbohong. Aku… keberadaanku ada karena kau menginginkannya. Aku akan menghilang lagi jika kau benar-benar tidak membutuhkanku. Didalam hatimu… kau membutuhkan teman. Tapi sayang, aku terlanjur menyukaimu. Aku tidak bisa memuaskan hasratmu untuk menjadi teman, aku ingin jadi lebih dari itu. Aku ingin menjadi nyata untukmu…”

Langit kian menggelap, suara tawa dari arah taman juga menghilang. Dibalik matahari yang sepersekian detik juga akan menghilang.

bolehkah…? Sekali saja aku terima, aku jujur akan perasaanku.

To Be Continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s