[STORYFIC.] Ketika Maling Bertasbih – OneShoot

Gue mau share naskah cerita yang gue buat waktu SMK. Cukup berpikir keras dan memakan waktu lama untuk menemukan ide dan menamatkan cerita ini. Agak ngga enak jika ketika kita membuat cerita tetap di paksa.

Tetapi, Jeng Jeng Jeng!! Gue berhasil 😀

Berikut cerita dari sang penulis musiman – anonimbella!

PS: KALIAN BOLEH MENGGUNAKAN CERITA INI UNTUK TUGAS KALIAN TETAPI CANTUMKAN URL SUMBER ARTIKEL INI DIBUAT


Pada suatu hari disebuah desa yang dikenal akan ketaatannya, terdapat salah satu orang yang tidak pernah taat kepada tuhannya ataupun kepada aturan desa. Hidupnya dianggap gagal oleh orang-orang yang mengenalnya. Sekolah dasar tak lulus, lamaran pekerjaannya ditolak, dan masa depanpun terlihat suram. Tidak ada cahaya yang meneranginya selama ini, iapun merasa putus asa dengan hidupnya, ia hanya mengikuti arus saja hingga dirinya tersangkut dibatu kali saat ini.

Tiba-tiba ada secercah cahaya juga yang ingin meneranginya. Dan semuanya dimulai dari sini, seorang maling dan temannya tengah nongkrong dipinggir jalan raya.

“EH! Lo punya duit gak sekarang?” Tanya teman cewenya yang bernama razma sambil tidak melepas gitar dari pelukannya.

“Heunteu! Bokek aing ayeuna.” Sahut alfin sang maling.

“Gimana sih lo! Maling kagak punya duit, berarti lu maling gagal!”

Alfin menoleh cepat kearah temannya yang berkata dengan santai.

“Yahhh gak gitulah. Gua lagi males beraksi aja,” ucap alfin tergagap. Razma hanya memutar bola matanya malas, menganggap ucapan temannya itu hanyalah sebuah alasan saja.

Tidak lama kemudian alfin pulang kerumahnya. Baru saja membuka pintu, alfin sudah disambut dengan suara melengkik dari ibunya. Yah, ibunya terkenal dengan mulutnya yang tidak disaring, dan dikenal keras terhadap anaknya. Seorang ibu yang unik, memang buah tak jauh dari pohonnya.

“EH! Lo darimana aja, HAH?!”

alfin mengorek kupingnya yang tak gatal. Alfin tidak mempedulikan ucapan ibunya, ia langsung melenggang masuk kedalam kamarnya. Melihat anaknya yang sangat tidak sopan, recka menarik nafas sekedar menahan amarah, namun amarahnya tetap tidak bisa dibendung.

“Ahh! Anak sialan. Gak tahu sopan santun! Lo diajarin siapa, hah?!” recka mengetuk-ngetuk pinti kamar alfin dengan amarah yang meluap.  Alfin yang sudah  tak tahan membuka pintunya dengan kasar dan menyemprotkan kalimat kearah ibunya.

“APAAN SIH NYAK!?” teriak alfin.

Recka mencengrkam kedua tangannya, tak lama kemudian tangan kasar recka meluncur diatas pundak alfin dan menepuk-nepuknya dengan kasar. Sambil mengucapkan.

“ANAK GAK TAHU SOPAN SANTUN KAMU! ANAK BODOH!”

Hingga maghrib menjelang suara teriakan tidak lenyap dari rumah kecil itu.

Keesokan harinya

Disuasana rumah yang berbeda. Tepatnya disebuah rumah sebuah keluarga yang menjadi panutan didesa tersebut. Anak keluarga itu hendak pamit kepada orang tuanya untuk berjualan rujak keliling desa.

“Abi, Umi , fitri pamit dulu yah?” fitri salim kepada ibu dan bapaknya.

“Iya, hati-hati dijalan. Inget! Berdagang yang diridhoi Allah,” pesan sang ayah.

“Jangan dekat-dekat sama anak muda di pasar sana, ya? Umi yakin mereka adalah preman,” sambung ibu.

“Hush! Jangan ngomong kayak gitu umi,” ucap sang ayah rija. Namun ibu hanya mendecak kesal.

“Yaudah, fitri pergi dulu. Assalamualaikum…”

“Waalaikum salam” jawab ibu dan bapak.

Fitri sudah menghilang dari pandang kedua orang tuanya. Kini sang ayah yang harus pergi menghadiri pengajian disebrang desa.

“Abi pergi juga ya mi,”

“Iya, hati-hati. Matanya jangan jajan!”

Diperjalanan tengah berjualan rujak sambil berteriak lembut ‘rujak, rujak’ fitri menjajakan dagangannya. Disebrang fitri terdapat razma yang berjalan santai sambil mengendong gitarnya. Mendengar ada rujak disekitar sini, razma merasa tertarik. Namun saat ia merogoh kantung lepisnya. Tinggal 500 perak. Sejenak razma merasa putus asa, namun tak lama kemudian sebuah ide brilian muncul diotaknya.

Tak lama fitri melintas disebelah kanan razma.

“Fit, gua mau satu,” fitri menghentikan langkahnya dan menoleh kepada orang yang memanggilnya.

“mau apa?” Tanya fitri polos.

“Yah, mau rujak-lahhh. Lo kira batu,”

Fitri hanya tertawa pelan mendengarnya. Fitri menghidangkan rujak pesanan razma, sementara razma menengok kekanan kekiri, dan bergumam kecil “tu orang lama banget ya?”

“Ini rujaknya. Harganya 5000,” dengan cepat razma mengambilnya dan berkata.

“Temen gua yang bayar. Tuh lu liat orang didepan sana, minta aja kedia,” fitri mendongakan kepalanya melihat orang yang dimaksud. “tapi…”

“Bye!”

belum sempat fitri menyelesaikan kalimatnya razma sudah keburu pergi. Fitri tahu razma bohong padanya. Lagipula jikalau benar orang itu adalah teman razma betapa malu dirinya untuk meminta uang. Fitri sempat melihat razma menepuk orang yang dikata temannya itu, tidak lama kemudian razma berlari pergi. Dan fitri sempat melihat orang yang dimaksud menggerutu kesal, namun saat orang itu bertemu pandang dengan fitri, fitri juga tidak terlalu yakin, untuk sejenak nafasnya menjadi sesak. Selama ini ia belum pernah bertemu pandang dengan laki-laki, karena itu  tidak diperbolehkan. Namun sekarang kejadian ini tidak sengaja terjadi.

Begitu pula alfin, ia tidak pernah melihat makhluk yang mendekati sempurna, tidak, gadis itu sangat sempurna. Alfin merapikan penampilannya, seperti menyisir rambutnya dengan tangan.

“Ah.. emm ini duit rujak yang tadi dibawa teman gua,”  ucap alfin tergagap.

“Iya, makasih.” Fitri mengambil uang yang disodorkan orang itu. Saat fitri hendak pergi alfin mencegatnya.

“ada apa?”

“Hhmm boleh minta nomor  hp nya gak?”

Fitri memasang wajah curiga.

“Engga. Gua gak maksud jelek. Gua Cuma takut temen gua razma ngutang rujak ke lu lagi,”

#modus banget#

Fitri hanya tersenyum menanggapinya, tiba-tiba perkataan uminya muncul dikepalanya. Dan fitri pun melanjutkan langkahnya. Sementara alfin yang secara tidak langsung ditolak mentah-mentah, tersenyum lebar dan ia harus jujur dia harus berterima kasih kepada razma karena menjadi penghubung antara dirinya dengan fitri, walau penghubung yang tidak bagus niatnya.

Dikediaman keluarga ustad

Jam 4 sore

Terlihat ibu dan salah seorang teman fitri tengah mengobrol santai diruang tamu. Sampai-sampai sang ibu sejenak melepas gelar wanita kalemnya, karena tertawa sangat keras.

“Hahaha terus-terus?”

“(bagian billy cerita lucunya, ya????? Yang bisa bikin gua ketawa ><)”

Tak lama kemudian ustad sekaligus kepala rumah tangga dirumah itu membuka pintu setelah terkejut mendengar suara tertawa yang melengking.

“Apa yang  lucu sih?” Tanya sang ayah sambil menutup pintu kembali. Dari arah dapur terlihat fitri membawa 1 cangkir teh manis untuk diberikan kepada temannya, billy.

“Itu loh, bi. Si billy punya cerita ……….. sampai umi tertawa kayak gitu,” fitri yang menjawab pertanyaan ayahnya. Sementara rija mengangguk-anggukan kepalanya mengerti lalu mendudukan dirinya disamping billy untuk ikut serta. Melihat ada orang tua lagi disekitarnya billy berdiri hendak salim kepada rija, dan rija menerimanya sekaligus tersenyum.

“Bagaimana kuliahmu, nak?” Tanya rija memotong pembicaraan.

“Eng.. Alhamdulillah lancar, pak.”

“Itu loh bi, billy jadi asisten dosen. Keren banget kan nih anak? Uhuk uhuk” ucap ibu karena bicara ditengah-tengah sedang minum teh, ibu mendapat balasan, tersedak air minum.

“Aduhh ibu kalo minum jangan bicara dulu dong,” ucap fitri sambil meraih gelas digenggaman ibunya, dan mengelap air yang tergenang dimeja.

“Iya, iya” sebenarnya ibu bosan mendengar nasihat dari kedua orang ini, yaitu anak dan suami. Sungguh menyebalkan bukan?

“Wahhh berarti kamu sangat pintar ya” puji sang ayah. Sedangkan billy hanya tersenyum malu.

“Ngomong-ngomong billy, kamu sudah punya kepikiran untuk menikah belum?” Tanya ibu sambil meletakkan cangkir teh keatas meja. Billy membulatkan matanya, begitupun dengan sang ayah. Ayah tahu kemana arah pikiran ibu.

Dan billy harus menjawabnya. Dengan tersipu malu billy menundukan kepalanya dan berucap dengan suara pelan.

“Sudah, mi”

Mendengar jawaban billy ibu langsung tersenyum lebar, dan menendang-nendang kaki suaminya sebagai sebuah isyarat. Isyarat tersembunyi antara keduanya. Melihat sang suami tidak melakukan apa-apa saat dia sudah memberi sinyal, tanpa meminta izin ibu langsung berucap.

“Siapa? Fitri? Ibu harap kamu menikah dengan anak…”

“Ekhem! Umi….” Potong sang ayah. Ibu memasang wajah tak suka, saat ibu ingin meneruskan perkataannya lagi billy mengeluarkan suara.

“Tergantung fitrinya, umi.. abi..”

Saat mendengar penuturan billy spontan semua orang yang ada diruangan itu kecuali billy membulatkan matanya, terkejut bukan main. Tidak berangsur lama suara teriakan terdengar dari rumah itu. Teriakan bahagia dari sang ibu. Sedangkan anak perempuannnya hanya diam tak bersuara, fitri tahu bahwa billy secara tidak langsung mengakui perasaannya. Tetapi ada perasaan yang mengganjal dibenaknya. Tapi, apa itu?

Dirumah maling …

Terlihat alfin dan ibunya sedang makan malam bersama. Tidak ada perbincangan disana, yang ada hawa dingin yang menyelimuti ruang makan disana, tak lama razma teman alfin tanpa mengucapkan salam masuk kerumah tersebut dan dengan enaknya mengambil sepotong tempe yang tersaji disana. Ibu alfin hanya menatap malas gadis itu, karena ibu alfin sudah terbiasa dengan hal itu. Bahkan alfinpun tidak peduli ada atau tidak adanya gadis itu disini.

“Ma! Mau sampai kamu numpang makan dirumah orang lain?” ternyata kesabaran ibu alfin sudah mencapai puncaknya.

“Aku gak pernah makan dirumah orang lain,” jawab ama santai sambil mengambil sajian lainnya. Recka mengibas-ngibaskan telapak tangannya, seketika udara terasa panas.

“Sekarang bilang yang kamu lakukan saat ini itu apa?” recka tersenyum menyeramkan kearah razma. Mendengar ucapan yang terdengar seperti gertakan ama dengan polosnya mendongakkan wajahnya dan menjawab.

“Kalian bukan orang lain,”

Recka sejenak menarik nafasnya dalam sekedar menahan emosinya agar tidak mencakar anak itu. Sedangkan alfin tertawa mendengar ocehan dari teman semata wayangnya itu. Tiba-tiba sekilas ingatan melintas diotaknya.

“Am.. Uhuk! Uhuk… ma!! Gua pingin ngomong sama lo E-M-P-A-T-M-A-T-A”

Bagaikan kilat tangan recka sudah menoyor dahi anak kurang ajarnya itu.

“Disini aja ya…” ucap recka pelan namun penuh penekanan disepanjang kalimat.

“Iy, iyaaa nyak!”

Ama masih asyik memakan lauk-pauk, alfin mulai menegakkan tubuhnya untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada temannya itu.

“TERIMA KASIH RAZMA! LO TEMAN GUE YANG PALING BAIK, walau kenyataannya gak kayak gitu” ucap alfin dengan lantang namun dikalimat terakhir terdengar pelan.

“Jangan memuji dan menghina saat bersamaan alfin,” ucap ama dengan wajah datar.

“Ekhem gini… lu tahu tukang rujak tadi siang kan,?”

“Hhmm.. kenapa? Lu mau minta duit ke gue? Lu kan maling,” kali ini recka menoyor kepala razma.

“Jangan ngomong sembarangan kayak gitu! Anak gua bukan maling!”

“Tapi.. ibu gak tahu…” belum sempat razma melanjutkan kalimatnya, ia sudah merasakan aura menakutkan dari arah alfin. Benar saja saat ia menoleh ia melihat aflin seperti mengeluarkan tanduknya.

“gak tahu apa?” Tanya ibu.

“Gak. Bukan apa-apa bu, ni anak emang suka ngomong ngelantur”

“Jadi lu kenal gak sama tukang rujak ntu?” Tanya alfin kembali.

“Si fitri maksud lo? Iya, gua kenal kenapa? Jangan-jangan..” ama mengeluarkan senyum penuh maksud.

“Apa fitri? Anak pa ustad rija sama ustadzah gedul itu?” sahut ibu.

“Ha…? Anak ustad?” ucap alfin terkejut bukan main.

“Iya, tuh anak baru pulang dari jogja. Disono tuh cewe tinggal sama bibinya, tapi ibunya minta fitri buat balik kerumah keluarganya,”

“Aneh.. belakangan ini ente kayaknya hobi ngegosip ya?”

Ama tertawa pelan. Ternyata temannya menyadarinya juga.

“Hehe”

“Udeh. Mau tuh anak ustad anak mentri besok temenin gua ketemu tuh cewe. OK?” ucap alfin dengan seenaknya lalu pergi masuk kekamarnya. Sementara ama hanya menatap bingung kearah pintu alfin, sementara recka.

“Apa? Jangan pernah deketin tuh anak! Lu tau kan ibu gedul itu musuh bebuyutan gue! ALFIN DENGERIN IBU!!!!”

Dirumah ini pun tak habis dari teriakan ibu dari rumah tersebut.

Keesokan harinya!

Dipagi yang cerah, alfin dan razma sudah siap siaga dijalan yang kemarin fitri lewati. Alfin mengatur laju nafasnya, ia terlihat gelisah sekali, terlihat jelas dari tingkah anehnya. Membetulkan kemejanya, rambutnya, dan berjalan mondar-mandir. Sedangkan razma hanya memandang miris anak itu. Razma yakin 100% anak yang bernama fitri akan menolak alfin saat melihatnya pertama kali, seperti kemarin.

30 menit kemudian

Yang ditunggu-tunggu sudah terlihat diujung jalan. Alfin melebarkan senyumnya, namun senyum itu tidak bertahan lama saat melihat seorang pria berjalan berdampingan dengan fitri. Kali ini fitri tidak sedang menjajakan rujaknya, melainkan hanya berjalan beriringan dengan pria itu, sambil tertawa dan tentu saja membuat darah alfin mendidih seketika.

Merasa temannya tersebut tengah mengeluarkan tanduk, ama menoleh melihat kearah yang membuat alfin mengeluarkan tanduknya. Tiba-tiba gitar terjatuh dari genggamannya, ama tidak bisa mengeluarkan suaranya, bahkan berkedippun tak bisa. Ia… baru pertama kali ini melihat seorang pria tinggi yang mempunyai senyum bak malaikat.

Dan tidak terasa fitri dan billy sudah ada dihadapan alfin dan ama yang tidak melepaskan pandangnya dari mereka berdua.

Mulanya billy ingin berjalan melewati 2 orang aneh yang tidak melepas pandangnya darinya dan fitri, tapi ia urungkan saat si laki-laki aneh menarik pergelangan tangan billy, dengan spontan billy mengucapkan.

“Apaan lo?” ucap billy datar. Alfin menatap tajam pemilik tangan yang dicengkramnya, entah ada rasa marah yang tersimpan didalam dirinya saat ini.

Melihat situasi yang memanas, fitri mendorong alfin untuk menjauh, dan ama tidak tahu kenapa menarik tangan billy dari cengkraman alfin.

“Apa-apaan kamu!” pekik fitri kepada alfin yang tengah mengatur nafasnya sekedar meredam emosinya.

Dilain sisi ama melihat pergelangan tangan billy sambil mengucapkan. “kamu gak apa-apa?” Tanya ama, dan billy hanya menjawab, “gua gak kenapa-kenapa, itu.. temen lo bukan? Tolong ajarin tuh anak sopan santun ya..” ujar billy lalu menegakkan tubuhnya dan memanggil fitri untuk melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda oleh orang aneh itu.

Fitri menoleh kearah billy dan tersenyum sebagai penanda ia menuruti permintaan billy, dan sebelumnya ia menoleh kembali kepada alfin. Dengan tatapan yang lembut ia bertanya pada alfin, pasti ada alasan kenapa alfin bersikap seperti ini.

“Ada apa? Ada urusan sama teman aku?” Tanya fitri pelan. Tidak dijawab, fitri hanya tersenyum singkat lalu berjalan kearah billy. Melihat billy akan pergi ama harus berbuat sesuatu.

“eh,..Eh fit..” | “fitri tunggu!” ucap ama dan alfin bersamaan.

Ama bersyukur dalam hati suara nya lebih kecil disbanding alfin, sudah dipastikan bahwa billy dan fitri tidak mendengarnya.

Alfin berjalan mendekati fitri, beriringan fitri berdiri menghadap alfin.

“Gua belum ngejawab pertanyaan lo tadi…”

“…Jujur gua cemburu…” lanjut alfin.

Spontan billy, fitri dan ama melebarkan matanya, ama beranggapan bahwa teman nya yang satu ini ternyata mempunyai nyali juga dan secara tidak langsung mengungkapkan perasaannya. Semenjak kejadian singkat itu dengan pengakuan alfin yang singkat pula, sebuah keberuntungan alfin dapatkan fitri memberi nomor hpnya kepada alfin tanpa alfin memintanya terlebih dahulu, setelah itu ia menghilang dari pandangan alfin. Dan alfin bisa mendengar bahwa teman lelaki fitri memarahi fitri dengan suara pelan, tetapi gadis itu hanya berjalan dalam diam. Kejadian yang berakhir dengan diam diantara alfin dan fitri.

Dan hari-hari setelahnya alfin dan fitri sering menghubungi satu sama lain. Awalnya mereka memutuskan untuk berteman, namun status pertemenan itu tidak bertahan lama dan 2 pihak merasakan perasaan yang sama dan memutuskan melanjutkan hubungan mereka kejenjang yang lebih serius.

Dan disinilah alfin dirumah kediaman keluarga fitri, setelah mengumpul kan semua kekuatan fisik maupun mental ia memutuskan membicarakan hubungannya dengan fitri kepada orangtua fitri.

“Begini ustad, ustadzah.. saya alfin berniat melamar anak semata wayang bapak dan ibu,” ucap alfin dengan suara pelan dan kalimat yang dibaku-bakukan.

Rija meremas kedua tangannya, tidak ada angin apa, tiba-tiba seorang pemuda yang tidak ia kenal berniat melamar anaknya. Rija melirik ibu, ibu hanya menatap penuh selidik pada pemuda ini, pasti ibu merasakan hal yang sama dengan rija. Daripada terjadi perang, buru—buru rija yang mengambil alih.

“Kamu anak mana?” Tanya rija mengawali.

“Anu.. saya anak kampong sini juga, pak”

“Koq bapak jarang lihat kamu disekitar sini?”

“Hehe saya jarang keluar rumah. Anak bae-bae gitu pak,” (alfin berucap pada penonton) [padahal kebalikannya..]

“Oh begitu, orang tua kamu kemana? Biasanya jika anak mau melamar akan orang tua yang mendampingi.”

Alfin mengusap leher belakangnya yang sudah mulai basah oleh keringat, jika membicarakan orang tua agak sulit. Karena ia melakukan ini tanpa seizin ibu.

“Uumm..”

“Siapa orang tua kamu?” belum sempat alfin menjawab pertanyaan rija, istrinay sudah menanyakan  pertanyaan yang harus dihindari alfin. Jika ia berucap jujur, sudah pasti lamarannya tidak akan diterima.

“Umm saya orang yang baru pindahan tempo hari. Ibu dan bapak saya tengah ada diluar kota, karena ada urusan bisnis,” [Maafin alfin, nyak]

Terlihat ibu eni manggut-manggut tapi tetap tidak melepas matanya dari alfin. Rija tersenyum menanggapi jawaban alfin, dan ia merasa bersalah keluarga sudah menanyakan hal yang aneh-aneh padanya. Seharusnya rija sudah tahu dari awal alfin memang benar anak yang baru pindah dari Jakarta kemarin.

“Hehe maaf kalo kami udah nanya yang engga-engga. Tapi tetap saja kami tidak menerima orang sembarangan untuk melamar, lagipula kami belum kenal baik dengan nak alfin,”

Alfin dan rija terlihat akrab, hal itu membuat eni kesal setengah mati. Sudah jelas-jelas ia tidak suka dengan lelaki itu, tetapi kenapa rija sangat baik pada alfin seolah menerima orang itu sebagai menantu ini. Tanpa aba-aba eni menggebrak meja dan menatap lekat alfin, dengan tatapan tak suka dan senyum sinis terpasang diwajahnya.

“Eh, denger ya. Gua ini mantan preman, jadi gua tahu siapa yang baik dan siapa yang buruk…” ucap eni dengan penekanan diakhir kalimat.

Terlihat alfin dengan susah payah menelan salivanya. Sedikit takut menatap mata eni. Sekali lagi eni menggebrak meja dengan amarah yang meluap.

“…Jadi, sebelum lu ngambil anak gue. Lu harus naklukin gue dulu!”

“IBU!” pekik fitri yang entah sejak kapan sudah ada disana. Tetapi eni tidak melepas pandangnya dari alfin, langsung saja eni berkata.

“Diem dulu! Ini demi kebaikan kamu juga fitri!”

kali ini eni dan fitri bertemu pandang. Jujur saja fitri belum pernah melihat ibunya semarah ini, dan ia juga baru tahu bahwa ibunya adalah mantan preman. Fitri menahan tangis dan berlari menuju kamarnya. Rija yang menaggung malu hanya bisa melepas pecinya dan meremas rambutnya dengan enggan.

“Anu… permisi bu, pak alfin pamit dulu. Assalamualaikum….” Alfin berlari tanpa menunggu jawabn salam dari rija dan eni. Tiba-tiba saja nyali besar nya menjadi sebesar kacang polong. Alfin sudah putuskan daripada ia durhaka sama orang tua dan gak bisa ngedapetin hati ibu  fitri, lebih baik dirinya backstreet saja.

Dirumah kediaman alfin

“Fin punya duit gak?” lagi-lagi ama muncul didepan alfin.

“kagak” jawab alfin dengan malas.

“kenapa lu? Muka lu kagak digosok ya?”

“emang muka lu digosok?”

“kagak. Muka gua udah cantik dari lahir,”

“berarti gua jelek gitu?”

Ama tersenyum sambil mengangguk, tak lama ia melenggang pergi menjauh dari alfin.

Setelah sendirian dikamarnya, ia merogoh kantung celananya. Ia tidak mendapatkan satu benda pun didalam sana. Sudah 3 minggu ia tidak melancarkan aksinya, yaitu maling.

Drrt Drtt

Alfin meraih hp yang tidak jauh dari tempatnya saat ini. Dan membuka mail box, ternyata dari fitri. Dengan hati-hati ia membaca pesan dari fitri.

FROM fitri :

Fin, kamu kabur? Terus gimana hubungan kita? Kamu serius kan sama aku?

“YAH! Gua serius lahhhh” teriak alfin entah pada siapa.

“Gue harus nyari siasat buat ngeyakinin fitri bahwa gue bener-bener serius sama dia, tapi… gimana caranya?”

Ia merogoh kembali kantung celananya.

“Gak enak banget gue gak megang duit,”

Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya. Senyum lebar mengembang dikedua sudut bibirnya. Ia akan melancarkan aksinya kali ini, karena tangannya sudah gatal akan memegang duit.

AT NIGHT

Alfin dengan fashion malingnya mengendap-endap masuk jendela sebuah rumah. Dengan hati-hati ia mencari apa saja yang berharga yang tertangkap matanya. Alfin sengaja mencari rumah yang gelap setiap malam dan hanya satu orang yang ada dirumah ini. Alfin tidak tahu siapa yang ada dirumah ini, asalkan bukan rumah fitri ia akan melancarkan aksinya, yaitu maling.

Dengan gesit alfin mengambil hp yang tengah dicharger diruang tamu. Mengambil tablet yang tak jauh dari sana, dan tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiaannya. Ada sebuah batu cincin yang tersimpan dengan rapi disebuah lemari. Tiba-tiba sebuah ide ada diotaknya, dengan cepat ia mengambil cincin itu juga.

CKLEK

Matilah alfin saat ini saat ia mendengar pintu kamar rumah ini terbuka. Ada sebuah cahaya lampu diujung lorong rumah itu. Dan alfin melihat bayangan, dengan cepat alfin memanjat kembali jendela yang ia naiki, dan berhasil kabur, untuk aksi kali ini bisa disebut SUKSES.

Billy merasa kerongkongannya sangat kering, ia hendak mengambil air yang ada diruang makan. Dan juga ia kelupaan mencabut hpnya yang dicharger. Ia berjalan menuju ruang tamu dengan mata yang setengah terpejam. Ia meraba-raba meja tempat hpnya berada.

“rata?”

Buru-buru billy membuka matanya, terkejutlah dirinya saat melihat hpnya sudah lenyap dan ia beralih menuju tablet, ternyata kandas juga. Dengan panik ia juga memeriksa hal yang paling berharga dihidupnya, saat melihat cincinnya ternyata lenyap dari laci istimewanya. Seketika pandangan billy kosong dan tubuhnya jatuh terduduk dilantai yang dingin.

“Tidaaaaaakkkk!”

Keesokan harinya

Alfin berjalan dengan riang menuju taman tempat ia dan fitri untuk bertemu hari ini. Ia tidak melepas cincin yang ada digenggamannya saat ini, ia yakin fitri pasti suka. Karena ia tahu bahwa fitri suka batu akik. Tak lama alfin sudah ada dihadapan fitri yang tersenyum lemah padanya.

“Jadi gimana? Udah ketemu sesuatu buat ngeyakinin aku bahwa kamu serius?”

Alfin tersenyum menanggapinya. Dengan cepat ia menjulurkan tangannya yang mengenggam cincin. Tentu saja fitri terkagum-kagum. Senyum menggembang diwajah fitri.

“Aku serius sama kamu fitri,”

Fitri sangat terharu, ia hendak meraih cincin yang dijulurkan alfin tiba-tiba….

“FITRI!”

Alfin dan fitri menoleh kearah sumber suara. Ternyata billy ada tidak jauh dari mereka. Billy berjalan cepat menuju mereka berdua, tanpa permisi billy meraih cincin yang dipegang alfin. Billy melihat baik-baik cincin itu. Alfin yang tidak terima cincinnya diambil begitu saja, hendak menegur.

“Ngapain…”

BUK

Belum sempat alfin menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba ia sudah mendapat hadiah dari billy. Billy tidak memberi kesempatan pada alfin untuk melawan. Dengan kekuatan yang besar alfin pun sanggup membalas. Perkelahian pun tak terhindarkan. Fitri sudah meneriaki mereka berdua, dan mencoba memisahkan mereka tetapi percuma saja. Ditengah-tengah pertarungan billy berucap.

“Lu harus ngaku. Kalo lu maling!”

“Apa? Jangan ngomong sembarangan tanpa bukti lu!”

Billy mencengkram kerah alfin, dan menunjukan cincin yang sekarang dipegang billy.

“Ini buktinya. Semalam cincin gua ilang, dan gua aneh kenapa sekarang ada ditangan lu?”

Fitri melebarkan matanya, walau ia tidak terlalu mengerti ia menangkap sebagian apa yang diucapkan billy. Alfin melirik cincin itu, senyum sinis muncul diwajah alfin.

“Hehe batu kayak gitu banyak juga kali,”

Kali ini billy membalikan cincin akiknya dan menunjukan ada sebuah tulisan didalam linkaran cincin itu.

“Fitri… itu tulisan yang gua tulis saat membeli cincin ini. Dan gak mungkin juga lu menuliskan hal yang sama bukan? Udah ngaku aja!”

“hehe g..gue juga nulis fitri dicincin nya!” ucap alfin yang sudah terdengar sumbang.

“Kamu mengaku aja alfin,” kali ini fitri mengeluarkan suara. Billy melepas cengkramannnya dari kerah alfin, dengan cepat ia merogoh kantung celana alfin, benar saja ada hpnya disana dan ada segepok uang, yang ia yakini adalah uang hasil dari tabletnya yang dijual dari alfin. Sebelum billy berjalan kearah fitri ia sempatkan berbisik kepada alfin.

“Mati lo sekarang,”

Terlihat fitri dengan susah payah menahan air matanya, ia hanya bisa mengucapkan.

“Aku kecewa sama kamu,”

Alfin hany bisa berdiri mematung melihat kepergian fitri yang berlari menjauh didampingi dengan billy. Tatapannya menjadi hampa. Ia mencengkram tanah yang menjadi alasnya kini.

“Bego! Seharusnya gua sadar diri! Gue gak pantas buat dia!”

Dirumah keluarga alfin

Terlihat ibu recka sedang menanak nasi, ditemani ama yang hanya bisa melihat sambil mengunyah makanan.

“Ama lu kagak kerja?”

“Males ah”

“Hahh bapa lu gak merhatiin lu apa?”

Seketika ama menghentikan aktifitasnya mengunyah , tak lama ia mengunyah kembali sambil menundukan kepalanya dalam.

“Tuh orang gak peduli sama gue,”

Recka hanya menatap iba anak itu. Dan recka berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Makanya kerja! Kayak alfin kerja part time, lu ikutan kayak gitu aja,”

“hahahaha”

Recka mengerutkan alisnya bingung. Kenapa gadis itu tertawa.

“Kenapa lu ketawa?”

“Yah, lucu aja. Ama gak minat ngikutin jejak alfin,”

“Kenapa? Jelas-jelas anak gue meninggalkan jejak rejeki dengan cara yang halal,”

Ama menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.

“Salah! Asal ibu tahu aja. Dia kan itu maling…”

Recka membulatkan matanya.

“Apa lu bilang?”

“Ih, dia itu ma….ling” ama sadar bahwa ia salah ucap. Matilah dirinya kali ini.

Dan sepertinya penderitaan alfin tidak cukup sampai fitri yang marah padanya. Kegelapan semakin menelan kehampaan hati seseorang, ingin rasanya hati itu menghilang saja. Badai yang semakin memperburuk keadaan, namun badai tidak akan muncul tanpa sebab. Setiap perbuatan pasti aka nada balasannya.

Baru saja alfin berdiri diambang pintu rumahnya, ia suda melihat tas besar tergeletak diatas lantai. Tatapan pria itu terlihat lesu, dengan lemah alfin mendongakkan kepalanya didepan sana terlihat ibunya sedang berdiri menghadap dirinya dengan melipat kedua tangannya didepan dada dan memasang muka kesal bercampur sedih.

“Ada apa ma?” Tanya alfin lemah.

Recka mendorong tas yang menengahi dirinya dengan alfin dengan kaki kanannya.

“Lu harus pergi dari rumah ini,”

Alfin membulatkan matanya.

“kenapa?” alfin bertanya dengan nada yang sedikit meninggi. Tidak lama terlihat ama keluar dari persembunyian dibelakang punggung recka. Ama menundukkan kepalannya dalam, dengan wajah penuh penyesalan ama menatap alfin.

“Maafin gua fin. Ibu lu tahu pekerjaan lu yang sebenernya sekarang,”

Alfin menghela nafas dengan berat. Cobaan tuhan yang diberikan padanya belum berakhir.

“Ma… alfin….”

“Pergi..” potong recka tidak memberi kesempatan alfin untuk membela diri.

“tapi, alfin..”

“Jangan kembali sebelum memperbaiki kesalahan lu,” ucap recka dingin. Setelah itu recka menutup pintu dan membiarkan ama tetap didalam.

Alfin sudah tahu cepat atau lambat ibunya akan mengetahui yang sebenarnya.  Tetapi kenapa harus bersamaan dengan masalah yang baru saja menimpanya beberapa saat yang lalu. Ia sudah benar-benar tenggelam didalam lubang hitam, dan sulit untuk muncul kepermukaan.

Alfin mengambil dan menggendong tasnya, sejenak ia melirik rumahnya itu. Dengan perasaan yang berat ia berjalan menjauh dari rumah itu. Sementara dari balik jendela recka menangis melihat kepergian anaknya, ia sangat kecewa kepada alfin. Ia tidak menyangka anaknya seorang maling dan seorag pembohong, alfin telah membohongi recka selam 5 tahun. Sungguh recka sangat kecewa. Ama hanya bisa memandang keluarga alfin yang remuk seketika. Tetapi menurut ama hal ini adalah yang terbaik, agar tidak ada lagi kebohongan diantara keluarga alfin. Tinggal alfin yang menebus kesalahannya.

Kedua kaki alfin membawa dirinya hingga kedepan sebuah masjid dikampung sebelah. Sejenak ia merasa untuk menyegarkan otaknya, dengan lemah ia masuk kedalam masjid dan duduk bersila dibarisan paling belakang jamaah, kebetulan disana sedang ada ceramah.

“Seseorang tidak akan tersadar dari kesalahan, sebelum hidayah dan ganjaran menghampirinya. Syukur Alhamdulillah, jika kedua hal itu hadir saat kita masih hidup, berarti kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan…. Betul?” suara penceramah.

Sejenak alfin mengenali suara itu, ia mendongakkan kepalanya. Astaga! Kenapa dunia terasa sempit? Pak ustad rija yang sedang ceramah ditempat ini. Tetapi rasa pening dikepala alfin semakin menjadi, sampai-sampai alfin tak kuasa menjambak rambutnya. Hingga matanya terpejam dan tubuhnya tergeletak lemah diatas lantai masjid.

After 60 minutes

Semua jamaah sudah menghilang dari masjid, tersisa beberapa pria saja yang hendak shalat isya. Melihat ada yang tertidur didalan masjid, rija langsung menegurnya.

“Nak, nak, bangun nak. Sudah isya, ayo bangun segera shalat” ucap rija.

Alfin menggeliat saat melirik siapa yang membangunkannya, alfin tersentak dengan cepat mengekkan tubuhnya walaupun rambutnya terlihat sangat berantakan. Alfin mati gaya, rija melihat pria itu adalah alfin rija hanya tersenyum.

“bapak tidak akan bertanya lebih lanjut, jika nak alfin punya masalah, jernihkan dulu otak nak alfin dengan shalat. Setelah itu terserah nak alfin, ingin curhat ke bapak atau tidak. Siapa tahuu bapak bisa membantu?”

Alfin menundukan kepalanya dalam. Ia merasa malu. Kenapa ia musti membohongi orang sebaik rija, dan juga keluarganya. Ditambah ia mengecewakan ibunya. Dengan lemah alfin bangkit dan mengikuti rija untuk mengambil wudhu.

Selama shalat alfin hanya membungkam mulutnya, hingga setelah shalat ia menangis sejadi-jadinya. Ia meminta maaf kepada allah dan meminta bantuan kepadanya. Melihat hal itu rija mendekati alfin dan memegang pundak alfin dengan lembut.

“Lepaskan saja, lepaskan semua nak,” ucap rija menengakan.

“Hiks. Pak, maaf… maafin alfin.”

Rija masih menunggu kelanjutan alfin dengan sabar.

“Alfin nyesel! Sebenarnya alfin bukan orang baik…”

Alfin melihat reaksi rija, sama seperti sebelumnya. Lalu alfin melanjutkan.

“…Alfin itu maling, pak….” Aku alfin. Alfin memejamkan matanya kuat-kuat, ia sudah siap menerima apa saja dari rija. Tetapi bukan bentakan malah nasihat yang didapat alfin.

“Gak apa-apa nak alfin. Alfin mengatakan hal ini kebapak, berarti kamu mengaku kamu itu bersalah kepada bapak dan semuanya. justru nak alfin mempunyai nyali yang besar untuk meminta maaf. Apa nak alfin ingin menebus kesalahan itu?”

Alfin mendongakkan kepalanya dan menatap rija dengan seksama. Apa ia tidak salah dengar.

“B..bapak maafin alfin?”

“Hhhm gimana ya? Ya, walau tidak sepenuhnya. Tetapi allah maha pengampun kan, kamu masih punya kesempatan alfin, untuk menebus semua kesalahan kamu,” ucap rija.

“jadi… bagaimana? Kamu mau lebih mendekatkan diri kepada allah? Insyaallah ketika kau sudah berubah, semua orang yang kau sayangi akan kembali walau ada konsekuensinya,” lanjut rija.

Alfin tersenyum lebar. Dengan cepat menyambut tangan rija dan menaruh telapak tangan rija didepan dahinya, alfin salim kepada rija. Sedangkan rija hanya tersenyum sambil mengelus puncak kepala alfin.

“Iya! Iya! Alfin mau berubah! Makasih pak…”

Semenjak hari itu alfin menjadi pengurus masjid dan tinggal digudang yang ada disebelah masjid, dijadikan alfin menjadi kamar. Hampir setiap hari rija mengunjungi alfin, dan mengajari nya mengaji dan memberitahukannya arti hidup dan peraturan allah yang tertulis dialquran dan perkataan rasul melalui hadits.

Hingga  1 bulan kemudian alfin menjadi orang yang berbeda. Masyarakat kampong itu senang jika melihat dan bertegur sapa dengan alfin. Tutur kata pria itu sopan dan sangat menghormati perempuan. Pakaiannya pun bukan berwarna hitam atau berbau metal lagi, tetapi berbau religi. Alfin berjalan menuju masjid setelah ia habis dari warung depan. Saat memasuki gerbang ia sudah disambut oleh rija yang tersenyum kearahnya.

“Asslamualaikum pak ustad,” alfin menghampiri rija.

“Walaikum salam” jawab rija.

“bapak ayo masuk, udara dingin.” Ajak alfin. Alfin berjalan mendahului rija.

“Tunggu nak alfin.” Tahan rijja. Alin menoleh kebelakang tepatnya rija.

“Ada  apa pak? Ada yang salah?”

“hehe gak ada yang salah. Hhm apa kamu sekarang sudah siap?” Tanya rija. Alfin membulatkan matanya, tetapi ia juga sadar mau sampai kapan lagi alfin sembunyi.

“Iya, pak.” Jawab alfin yakin.

Rija tersenyum. Alfin mengambil tas yang sengaja ia sudah siapkan. Dan berjalan mengikuti rija keluar dari kampong ini dan menghadapi masalah untuk menebus semua kesalahannya.

Dirumah recka

Tangan recka seketika kaku dan membuat sapu yang digenggamnya terjatuh kelantai. Saat melihat anaknya, alfin berdiri didepan rumahnya bersama pak ustad rija. Kesadaran recka kembali saat anaknya yang berpenampilan berbeda menyambut tangan recka dan salim kepada recka.

“A..al..fin?” Tanya recka meyakinkan.

Alfin tersenyum.

“Iya, mak. Ini alfin. Maafin alfin mak, alfin akan menebus semua kesalahan alfin kepada emak, dengan menjadi anak yang berbakti disisa hidup alfin,”

Dibelakang recka terlihat ama yang mengenakan pakaian kantor, dan melihat alfin takjub entah dengan perkataanya barusan ataupun penampilannya. Melihat ada razma alfin menatap ama.

“Makasih, razma. Lu dah jagain ibu gue selama ini. Kayaknya lu dah jadi orang kantoran,”

Ama tersenyum haru. Akhirnya alfin kembali juga.

Kejadian itu menjadikan keluarga alfin menjadi utuh dan hangat dari sebelumnya. Kini keesokannya harinya, giliran keluarga alfin ditemani ama mendatangi rumah pak ustad rija.

Eni tak melepas matanya dari alfin. Sebenarnya ia sudah mendengar apa yang diceritakan rija kepadanya mengenai alfin dan perbubahan alfin, tetapi ia masih belum percaya.

“Buktiin kalo lu udah berubah. Dan bener-bener sayang sama anak gue,” tantang eni.

Terlihat recka mencengkram jemarinya, tetapi ditahan oleh alfin. Alfin tersenyum menaggapinya, lalu ia melirik kearah fitri.

“Alfin sanggup melakukan apa saja untuk fitri. Dan alfin juga bukan manusia yang sempurna, tetapi alfin berusaha untuk menjadi sempurna. Karena itu alfin meminta maaf kepada ibu, fitri, dan juga billy.” Ucap alfin

Dan kebetulan billy juga ada disana ia mendengar afin sudah kembali dan hendak melihat pria bernama alfin itu.

Billy tersenyum.

“Gue tahu apa yang sudah terjadi sama lo selama sebulan ini. Dan gua salut sama lu, berani menghadapi kesalahan. Dan masalah batu cincin gua udah lupa. Gua yakin lu bisa jagain fitri,” ucap billy pada akhirnya.

Alfin, recka, rija dan ama tersenyum. Satu orang sudah memaafkan. “Lu memang orang baik, bil” puji ama, billy hanya tertawa kecil.

Fitri hendak bicara tetapi diurungkan saat ibunya bersuara.

“Kamu bersedia melakukan apa saja untuk menebus kesalahan kamu?” Tanya eni meyakinkan.

“Iya, asal tidak menyimpang agama,” jawab alfin. Seketika semua orang yang ada disana tertawa, sudah cukup membuktikan bahwa alfin sudah berubah.

Terlihat walau sekilas eni tersenyum.

“Kamu gak akan buat fitri nangis? Dan berjanji akan selalu sayang sama fitri. Jangan sampai buat anak gua menderita, lu harus punya pekerjaan tetap,”

Alfin mengangguk menyanggupi, “Alfin sanggup..”

“dan…” eni menggantungkan kalimatnya.

“Buat ibu lo kalem kalo ketemu gue,” ucap eni sambil melirik recka

Kembali tertawa terdengar. Alfin menganggukan-anggukan kepalanay sambil tertawa “ iya, iya alfin bisa. Mak, denger kan?” Tanya alfin kepada ibunya.

“Iyaaa ibu denger” ucap recka enggan tapi kemudian ia tersenyum juga.

“Fit, gua janji bakal ngebahagian lo,” ucap alfin kepada fitri

Fitri tersenyum “iya, fitri percaya. Terima kasih alfin…”

Rumah itu diisi oleh tawa kehangatan dari 2 keluarga. Alfin lega hubungannya dengan fitri sudah direstui. Tinggal ia memikirkan untuk mendapatkan pekerjaan dan segera melamar fitri. Ternyata ia tidak sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan. Toh, saat ini cahaya menerangi dengan terang. Percayalah bahwa allah selalu mendampingi orang yang ingin berubah menjadi baik dan lebih baik lagi.

SEKIAN


Mau komentar? sok atuh hatur nuhun bagi yang berkomentar dan memberikan masukkan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s