[STORYFIC.] Assalamualaikum Nur – OneShoot

Jaga sikap dan mulutmu. Kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti, teman!

“Assalamualaikum, nur! Tumbenan jogging.”

Limah menutup telinganya dengan headshet yang sedari tadi bertengger di lehernya. Gadis itu tidak mempedulikan pria yang berlari disampingnya sambil mensejajari langkah nur.

“Koq diem? Sapaan itu harus di jawab, nur. Gak baik, kalo gak dijawab..”

Alfin berikrar, tetapi belum selesai dengan nasihatnya nur berteriak nyaring sambil melepas headshetnya geram.

“Apa lagi sih mau lo! Kan udah gua bilang, jangan ganggu gue lagi! gue butuh privasi, OK?!”

Alfin membeku di tempat, tak lama ia tersenyum lebar.

“Ok, tapi gua juga pernah bilang. Kalo gua gak akan nyerah akan sesuatu yang terlanjur gua kejar.”

Nur mendesah kesal, lalu meninggalkan alfin dengan kaki yang di hentak-hentakkan.

“Nur! Gua akan nyapa lo, minimal lo jawab salam gue!”

Nur tidak menjawab balik, sebaliknya ia hanya mengacungkan jari tengah kebelakangnya, tepatnya kearah alfin yang tetap meneriaki namanya.

***

Pagi itu Nur cap sebagai pagi yang tidak menyenangkan. Kenapa? Bagaimana senang? Kalau si fanatic, itu muncul dari mana-mana. Entah dari depannya, kananya, kirinya, belakangnya, atasnya, bawahnya. Pokonya dimana-mana deh!

Seperti sekarang Nur sedang bersandar di sebuah pohon, suara alfin menesuk gendang pendengaran Nur.

“Assalamualaikum, nur..”

“Aarrghhh gua udah gak tahan!”

***

Singkat cerita, saking kelelahannya Nur duduk ditepian taman. Sambil menunggu kedatangan temannya, jessika, Nur sempatkan untuk meregangkan ototnya dan memukul-memukul kakinya yang sakit karena berlarian kesana-kemari.

Mudah-mudahan tuh orang gila, gak ngikutin gue lagi. #Aaminnn – Nur membatin.

“Nur!”

Nur terlonjak kaget, ia kira alfin yang memanggilnya. Tapi, syukurlah ternyata jessika teman yang di tunggu-tunggunya.

Nur membalas lambaian tangan jessika, dan mempersilahkan jessika duduk disampingnya.

“Widih! Kayaknya, olahraga lo kali ini berhasil membakar lemak di perut lo!”

Nur hanya bisa mengangguk-angguk, karena tidak kudu pakai  tenaga  juga untuk sekedar menjawab gurauan jessika.

“Hehe iya deh”

Nur cuma cengegesan, enggan untuk menceritakan olahraganya gagal total, tapi bakar lemaknya sih berhasil.

“Jess…”

“Hm?”

Jessika berdehem sebagai jawaban, namun mata masih setia dengan androidnya.

“Lo kenal si alfin kan?”

Jessika terlihat menghentikan aktifitas mengetiknya, lalu menatap Nur dengan intens mengangguk.

“Ya, kenal”

Nur menarik nafas dalam, sepertinya Nur harus menceritakan kegiatan alfin yang mengikutinya tadi.

“Jess, gue…”

“Tunggu! Biar gua jawab, lo udah senengkan? Yeah, merasa bebas dari si tengil itu!”

Nur hanya mampu menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti. Sementara jessika semakin mempelebar senyumnya.

“Yahh itu lho! Si alfin… hidup lo udah tenang dong, gak di gangguin dia lagi.”

“Maksud lo?”

“Yaeelahh gak usah pura-pura gak tau deh! Emang sih, sikap gua ke gini gak pantes. Tapi, tetep aja gua lega dan lo pun juga pasti lega. Kan si alfin meninggal akibat kecelakaan maut kemarin, jangan bilang lo belum tahu?”

Nur menutup mulutnya tak percaya. Apa ia salah dengar? Tapi, sayangnya tidak. Semua yang ia dengar tadi adalah kenyataan. Tapi, kejadian yang menimpa Nur sejak tadi itu apa?

Nur mempelebar bola matanya saat pandangan dialihkan kearah semak didepannya. Tanpa disadari tatapanya Nur saat itu tampak sangat kalut.

“Jessika…”

Mungkin saat ini suara Nur seperti suara curut kejepit. Jessika tetap setia memandang temannya, walau Nur tidak menatap balik matanya.

“Hm?”

.

.

.

“..Kalo yang lo omong itu bener, lalu yang gue lihat sekarang itu apa…?”

.

.

.

Dibalik semak belukar, alfin berdiri mematut diri dihadapan Nur yang menatapnya sakartis. Alfin terlihat menggerakan mulutnya, ia berucap tanpa suara, tapi jika diartikan berbunyi ‘A-S-S-A-L-A-M-U-A-L-A-I-K-U-M, -N-U-R’.

Kemudian senyum lebar menghiasi wajahnya. Bukan senyum tulus, tetapi senyum puas telah membuat wajah orang yang digilainya menjadi pucat dan kalut ketakutan.

.

.

.

“Apakah sesenang ini melihat  wajah ketakutan orang yang menganggapmu tak   ada…?” –Alfin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s